Pendalaman Alkitab ADAM

Kisah tentang Adam mengawali segala kisah tentang manusia, dan tentu ketika berbicara tentang Adam, maka hal mengenai Hawa pun tidak mungkin terluput. Kisah ini tidak hanya terkenal dalam kisah-kisah religius, agama-agama semitik (Yahudi, Kristen, Islam). Tetapi juga sering kali menjadi subyek pembicaraan di berbagai tempat. Meskipun kisah tentang Adam dan Hawa ini sudah banyak diketahui dalam berbagai macam pembahasan, tetapi dari masa ke masa pembahasan mengenai kisah ini tetap saja menarik. Dan tentu saja sumber-sumber pertama yang seringkali menjadi subyek penelitian mengenai kisah Adam adalah Alkitab. Sebab hanya Alkitab sajalah sumber tertua dan terlengkap yang mencatat mengenai kisah manusia pertama ini.

Di dalam PL, penggunaan kata Adam dapat ditemukan sekitar 510 kali. Kata ini merujuk kepada dua hal: yang pertama adalah merujuk kepada Adam sebagai pribadi, dan yang kedua merujuk kepada manusia pada umumnya (bdk. Kej 1:26-27 & Kej 4:25-5:5). Mengenai Adam ini, Roma 5: 12 berkata “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa”. Di sini diperlihatkan kegagalan manusia pertama, Adam pertama untuk taat kepada firman Allah sebab ia lebih memilih mengikuti kehendak dan pikirannya sendiri yang digoda oleh “yang lain” sehingga ia jatuh ke dalam dosa yang membuahkan maut baginya beserta keturunannya. Dan oleh karena pelanggaran tersebut mereka pun di usir keluar dari taman Eden (Kej 3: 1-24) .

Di dalam Perjanjian Baru, nama Adam muncul sebanyak sembilan kali, delapan kali mengacu kepada manusia pertama yang tentunya juga dimaksudkan kepada manusia umumnya (Luk 3:38; Rm 5:14, 1 Kor 15:22,45; 1 Tim 2:13, 14), serta satu kali mengacu kepada Kristus yang akhirnya mengacu kepada setiap orang percaya (1 Kor 15:45-49).  Jika oleh satu orang yakni Adam yang pertama dosa dan maut menjalar kepada semua orang, maka oleh satu orang pula yakni Kristus, Adam kedua, orang-orang percaya diselamatkan sebagaimana yang dikatakan oleh Roma 5: 18 “Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup”. 

Nama Adam yang muncul kedelapan kali tersebut adalah untuk mengingatkan dosa dan pelanggaran Adam yang tentu juga dimaksudkan merujuk kepada dosa dan pelanggaran yang dilakukan oleh orang-orang percaya pada umumnya, di mana dosa dan pelanggaran itu tidak hanya berdampak kepada diri sendiri tetapi juga berdampak kepada orang lain.

Mengenai perbedaan Adam pertama dan kedua diceritakan dengan jelas melalui 1 Korintus 15: 47-49 yang berkata “Manusia pertama (ha-Adam: manusia itu ‎ הָאָדָם ) berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga. Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga. Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi”. Di sini dikatakan bahwa manusia pertama bersifat jasmani, berasal dari debu tanah yang menandakan kerapuhan, kelemahan, keterbatasan, sehingga masuk ke dalam perangkap dosa yang berujung kepada kematian. Walaupun hal ini berbicara tentang manusia pertama, tetapi hal ini juga berlaku bagi setiap orang yang tidak benar-benar hidup di dalam Tuhan, manusia jasmani, yang sering disebut juga sebagai manusia duniawi. Manusia yang hidup dengan mengandalkan kekuatan dan pikiran sendiri, yang hidup dengan tidak melakukan apa pun untuk Tuhan, yang hidup hanya untuk dirinya sendiri, dan yang hidup sesuka hati, hidup di dalam dosa-dosa pelanggarannya, dan tidak mengindahkan firman Tuhan. Ini semua adalah bentuk-bentuk manusia pertama, Adam pertama.

Setiap kita dulunya dapat disebut juga sebagai Adam-Adam pertama karena kita hidup di dalam kegelapan yakni hidup sebagaimana mahluk jasmani  seperti yang digambarkan di atas. Tetapi, ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus dan hidup di dalam Dia, maka sebenarnya kita tidak lagi dapat disebut sebagai Adam pertama atau makhluk jasmani (duniawi), tetapi mahluk sorgawi sebagaimana yang dikatakan di dalam 1 Kor 15:45-49 di atas. Sebab sebagai orang-orang percaya kita telah diciptakan kembali di dalam Yesus Kristus yang berasal dari sorga (Efesus 2:10). Oleh karena itu menjadi sebuah perenungan penting bagi setiap kita saat ini apakah pikiran dan perbuatan kita dikuasai dan tertuju kepada Allah atau tidak? Sebab jika hidup kita tertuju dan berfokus pada Allah, maka benar bahwa kita adalah Adam-Adam kedua sebagaimana Kristus Yesus Tuhan dan juruselamat kita. Dan jika demikian, maka dalam setiap hal yang kita lakukan dan pikirkan kita harus memerhatikan perasaan Allah, memikirkan apa yang dipikirkan-Nya, dan hidup di dalam Dia dan firman-Nya.

Nah, selama ini apakah hidup kita terhubung dengan-Nya, hidup di dalam Dia serta taat dan setia pada-Nya menjadi sebuah perenungan yang penting! Sebab jika kita berkata bahwa kita adalah anak-anak-Nya, orang-orang pilihan-Nya, dan hidup di dalam Dia, tetapi kita hidup tidak merasakan apa yang dirasakan-Nya, dipikirkan-Nya, kita hidup sesuka hati, tidak mengindahkan firman-Nya, maka kita sedang menipu diri sendiri. Dan dengan demikian kita tidak dapat disebut sebagai Adam kedua, manusia-manusia rohani sebagaimana Kristus, tetapi kita adalah manusia-manusia jasmani, Adam pertama. Oleh karena itu mari kita tunjukkan melalui hidup kita bahwa kita adalah Adam kedua, kita adalah manusia-manusia rohani dengan hidup seperti Kristus, dengan hidup senantiasa memerhatikan hati dan perasaan Bapa. Mari kita jangan lagi jatuh ke dalam dosa dan pelanggaran yang sama di dalam berbagai bentuk dan rupanya seperti kejatuhan Adam yang pertama.

Efesus 2:10  mengatakan “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya”. Kiranya di dalam setiap hal yang kita lakukan dan kita pikirkan kita senantiasa mengingat hakikat diri kita sebagai Adam yang kedua, yang kembali diciptakan di dalam dan melalui Yesus Kristus, sehingga kita boleh menjalani panggilan hidup kita sesuai kehendak dan perkenanan-Nya, sehingga kita boleh senantiasa hidup dan dikuatkan di dalam Dia. Amin.

Ev. Malemmita